Cerita Pasien

Bunga Ramadani

(perempuan, 25 tahun)

Sepanjang periode 2013-2014, saya aktif ikut dalam program Indonesia Mengajar dan mengabdikan diri sebagai pengajar di Maluku Tenggara Barat. Dalam masa bakti tersebut, saya merasa ada yang berbeda dengan kondisi tubuh saya: kelelahan yang cukup berat dan berbeda dari biasanya. Saya pun memeriksakan diri saya ke dokter umum di Saumlaki. Dokter mendeteksi ada benjolan di leher saya dan mendesak agar saya mendapatkan pemeriksaan intensif.

Saya memutuskan untuk pulang ke Jakarta untuk memulai proses pengobatan yang lebih komprehensif. Hasil pemeriksaan menyatakan saya mengidap kanker tiroid papiler serta harus menjalani operasi pengangkatan.  Pada saat yang sama, saya juga mengidap penyakit autoimun hasimoto yang juga  menyerang kelenjar tiroid.

Pasca operasi pengangkatan saya  mengalami apa yang disebut kondisi  hipotiroid dan hipetiroid.  Bila sedang hipotiroid, walaupun saya makan dalam jumlah cukup, namun saya merasa lemas. Di saat hipertiroid, energi saya cepat habis dan saya mudah merasa lelah. Untuk itu saya rutin menjalani pengobatan serta ablasi setiap 6 bulan sekali.

Saya pernah membaca, dan saya pikir benar adanya, bahwa hanya 10% penderita gangguan tiroid yang mendapatkan perawatan untuk penyakit yang mereka alami. Sisanya berada dalam kegelapan: entah mengalami kenaikan atau penurunan berat badan yang sulit dijelaskan yang pasti mengganggu kualitas hidup mereka atau mengalami gangguan kejiwaan seperti depresi atau mania. Inilah mengapa deteksi dini itu sangat penting: cek leher Anda!